Faktor Risiko dan Komplikasi yang terjadi Pasca Kuret

Kuret merupakan istilah yang biasa digunakan oleh masyarakat. Sedangkan dalam istilah medis, kuret adalah kepanjangan dari Dilatasi dan Kuretase (D&C). Yaitu suatu prosedur bedah pembukaan serviks (dilatasi) dan pemotongan jaringan yang berada di sekitar rahim (kuretase) untuk mengatasi penyakit yang terdapat pada sistem reproduksi wanita.

 

Siapa yang harus menjalani proses kuret?

Kuretase biasanya akan disarankan Dokter pada wanita-wanita yang mengalami permasalahan berikut ini :

  • Keguguran. Jika seorang wanita yang mengalami keguguran diharapkan rahimnya mampu mengeluarkan jaringan yang tersisa secara alami dalam 10 minggu. Apabila dalam waktu 10 minggu masih belum bisa mengeluarkan sisa-sisa janin dalam kandungan atau bahkan masih ada janin yang tertinggal, kemungkinan besar tindakan kuret akan dilakukan.
  • Aborsi. Wanita yang pernah melakukan aborsi pada kehamilannya harus menjalani proses kuret. Namun, apabila anda pernah melakukan aborsi, kuret hanya bisa dilakukan pada usia janin yang belum mencapai 16 minggu sehingga tidak membutuhkan prosedur pembukaan leher rahim.

Selain keguguran dan aborsi, kuret juga diperlukan apabila terdapat gangguan yang berdampak buruk pada rahim. Gangguan ini meliputi munculnya polip atau fibroid di rahim. Meski demikian, ada faktor risiko yang patut untuk diketahui sebelum anda melakukan tindakan kuret.

Faktor risiko pasca tindakan kuret

  • Mengalami kesakitan sama halnya dengan melahirkan
  • Merasakan kram dan demam hingga menggigil
  • Pendarahan kecil
  • Periode menstruasi menjadi tidak teratur
  • Lapisan rahim terkikis
  • Mengalami sakit perut yang luar biasa
  • Munculnya bau tidak sedap di area vagina

Meski relatif aman, namun beberapa risiko di atas bisa saja terjadi sebagai faktor risiko dari tindakan kuret tersebut. Terlebih jika anda memiliki rahim yang lemah dan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Mungkin akan ada banyak masalah kesehatan yang menghampiri tubuh. Ini belum selesai, selain dari faktor risiko yang harus anda pertimbangkan, proses kuret juga dapat menyebabkan komplikasi.

Komplikasi yang terjadi pasca tindakan kuret

Dalam kasus yang sangat jarang terjadi, sekitar 16% wanita yang pernah menjalani proses tindakan kuret dapat membentuk jaringan parut di dalam rahim atau di sekitar leher rahim. Hal ini disebut sebagai sindrom Asherman, yang mana sindrom ini pada akhirnya dapat menimbulkan ketidaksuburan atau perubahan siklus haid. Adapun komplikasi yang lebih mungkin terjadi pasca kuret sebagai berikut :

Pendarahan hebat

Pendarahan yang berat ini terjadi dikarenakan dinding rahim yang sudah terkikis oleh benda-benda yang dilakukan pada proses kuret. Hal ini juga dapat terjadi apabila fibroid yang tidak terdeteksi dipotong selama proses kuret.

Adanya infeksi

Komplikasi selanjutnya yang terjadi pasca kuret adalah infeksi. Infeksi ini muncul sebagai akibat dari adanya instrumen atau alat kuret yang dimasukkan kedalam rahim. Sebagian besar infeksi yang terjadi setelah proses kuret biasanya sulit sekali disembuhkan meski menggunakan antibiotik.

Baca juga : Bahaya Rahim Jika Tidak dibersihkan Hingga Tuntas

Robeknya uterus

Meski jarang terjadi. Namun jika anda seorang wanita yang pernah mengalami infeksi rahim, tidak menutup kemungkinan jika anda mengalami kerobekan pada uterus. Pada wanita menopause, kondisi ini akan berkembang bahkan Dokter akan menyarankan anda untuk melakukan operasi lanjutan yang harus dilakukan pasca kuret.

Gangguan kesuburan

Sebagai salah satu komplikasi dari tindakan pasca kuret, ini bisa terjadi. Gangguan kesuburan pasca kuret akan terjadi sebagai akibat dari rahim yang membutuhkan waktu untuk kembali normal. Selama dalam masa pemulihan, rahim masih belum bisa dikatakan normal dan adanya gangguan kesuburan ini sering ditandai dengan siklus menstruasi yang tidak lancar bahkan sering mengalami pendarahan ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan anda.

Mengalami ketergantungan kuretase

Ini sering terjadi pada kebanyakan kasus. Wanita yang 1 kali pernah melakukan kuret selalu melakukan tindakan ini secara terus menerus pada kehamilan berikutnya. Meski dinding rahim yang terkikis dapat tumbuh kembali secara alami, namun jika anda pernah menjalani tindakan kuret lebih dari satu kali akan berdampak pada kesuburan hingga masalah kesehatan lainnya.

Jika kuret memiliki risiko dan komplikasi yang cukup besar, lantas alternatif apa yang harus digunakan jika mengalami keguguran? Bukankah sisa-sisa janin dalam rahim harus dibersihkan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak harus dikhawatirkan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, Anda dapat menggunakan solusi lain yang lebih efektif, lebih aman dan tentunya tanpa harus memasukkan alat-alat seperti halnya pada tindakan kuret.

Solusi apakah yang dimaksud?

Yakni dengan Obat pembersih rahim Ace Maxs. Sekilas, herbal ace maxs terbuat dari campuran ekstrak kulit manggis dan daun sirsak yang diolah secara modern dan didampingi oleh para pakar kesehatan internasional. Sehingga jika anda menggunakan Obat pembersih rahim Ace maxs untuk membersihkan sisa-sisa janin dalam kandungan, anda tidak harus khawatir. Mengapa? Selain tidak ada benda yang masuk, membersihkan rahim dengan Ace Maxs juga tidak akan menimbulkan EFEK SAMPING apalagi KETERGANTUNGAN.


Terimakasih telah membaca faktor risiko dan komplikasi yang akan terjadi pasca kuret. Apabila keguguran tidak memiliki penyebab yang pasti, kemungkinan besar kehamilan berikutnya tidak akan memiliki terlalu banyak kendala. Namun, jika penyebab keguguran sudah diketahui secara pasti, Tim khusus dari Dokter akan merawat anda untuk meningkatkan kesempatan pada kehamilan berikutnya. Happy Reading – Tokoacepinfo


Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *