Vaksin sangat Berbahaya untuk tubuh, Mitos atau Fakta ?

Dunia menyambut kelahiran bayi dengan berbagai penyakit yang bisa mengancam kesehatan tubuhnya. Ketika bayi memiliki kekebalan tubuh yang sangat lemah, maka disitulah peranan vaksin akan dimainkan untuk membantu menjaga kekebalan tubuh pada bayi agar bisa tetap kuat dan sehat.

Namun, apakah anda sebagai seorang ibu mengetahui bahwa vaksin berbahaya? Kemungkinan besar tidak. Ketika anak anda mengalami vaksinasi, mungkin ada beberapa hal yang akan anak anda alami.

Seperti kemerahan, bengkak, nyeri atau bahkan memar dibagian tubuh yang di vaksin. Kemudian, apakah anda juga tahu bahwa vaksin berbahaya itu bukanlah mitos, melainkan fakta! Artinya, bahwa vaksin memang berbahaya dan bukan hanya mitos belaka. Berikut adalah penjelasannya.

Efek samping Vaksin

Bukti-bukti medis yang luar biasa, menemukan bahwa sebagian besar efek samping dari vaksin pada bayi yang baru lahir dan anak-anak memang ringan, kemungkinan hanya bengkak, nyeri dan memar.

Namun, ternyata vaksin juga bisa menimbulkan penyakit Pneumonia. Ketika bayi anda mengalami penyakit Pneumonia, apakah anda akan tetap memberikan vaksin pada bayi atau anak anda? Sebaiknya anda berfikir ulang.

Apalagi jika mengingat zaman sekarang, begitu banyak vaksin palsu yang beredar di masyarakat umum. Efek samping dari vaksin emang bisa dibilang umum, namun itu bagi yang memiliki efek samping yang ringan. Sebenarnya efek samping vaksin sangatlah serius untuk kesehatan tubuh. Vaksinasi bisa mengarahkan seorang anak yang mengembangkan demam dan berujung pada kejang-kejang diseluruh tubuhnya.

Apakah Vaksin Berbahaya ?

Badan ahli medis termasuk American Academy of Pediatrics (AAP) mendorong orang tua untuk memvaksinasi anak-anak mereka terhadap 16 penyakit. Namun kekhawatiran tentang tubuh anak tidak mampu membuat vaksin terlihat sebagai obat yang ampuh dan menyehatkan.

Sistem kekebalan tubuh anak-anak menanggapi beberapa ratus zat asing yang memicu respon imun setiap hari. Sebaliknya, jadwal lengkap vaksinasi anak-anak disarankan termasuk dibawah 200 antigen. Artinya, ketika anda melakukan vaksin pada tubuh anak, maka banyak zat asing yang masuk ke dalam tubuh anak. Berfikir! anak anda masih dalam usia yang masih begitu muda, apakah anda akan rela melihat tubuh mungilnya diserang dengan berbagai penyakit? Ibu yang baik mungkin tidak akan melakukannya!

Vaksin menyebabkan Autisme

Vaksin dan autisme telah menjadi perdebatan yang berlangsung secara bertahun-tahun. Pada bulan Februari 1998, Andrew Wakefield, seorang gastroenterologist Inggris dan rekan-rekannya menerbitkan sebuah makalah yang berkaitan dengan vaksin dan autisme.

Beliau mengklaim bahwa vaksin MMR bertanggung jawab untuk peradangan usus yang menyebabkan translokasi peptida biasanya non-permeabel ke aliran darah dan kemudian ke otak.

Berikut adalah contoh sebuah makalah yang menggambarkan bagaimana memproduksi vaksin  dan ‘ahli’ medis dengan koneksi industri obat telah menyadari beberapa bahaya yang terkait dengan vaksinasi selama lebih dari 30 tahun.

Apakah anda masih belum puas dengan penjelasan yang dijelaskan mengenai bahaya vaksin? Berikut adalah beberapa paparan yang dijelaskan oleh 22 studi :

1. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Epidemiology menunjukkan bahwa pemberian vaksin Hepatitis B untuk bayi laki-laki yang baru lahir bisa tiga kali lipat berisiko terkena gangguan spektrum autisme dibandingkan dengan anak laki-laki yang tidak di vaksinasi sebagai neonatus. Penelitian ini dilakukan di Stony Brook University Medical Center, NY.

2. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of anorganik Biochemictry oleh para peneliti di Neural Dynamics Group, Departemen Ophthalmology dan Ilmu Visual di Universitas British Columbia ditentukan bahwa aluminium, logam yang terdapat pada vaksin yang paling umum digunakan mungkin mengkontribusi secara signifikan untuk meningkatnya faktor prevalensi ASD (Atrial septal defect) yaitu kerusakan antara kedua ruang atas jantung (atrium).

Kerusakan ini menyebabkan percampuran darah yang memiliki oksigen dengan darah yang samasekali tidak memiliki oksigen, pada akhirnya mengakibatkan jantung kanan membesar dan tekanan tinggi pada paru-paru (hipertensi pulmonal). Hal tersebut menunjukkan bahwa korelasi antara prevalensi ASD dan paparan aluminium tampaknya menjadi yang tertinggi di usia 3 sampai 4 bulan.

3. Sebuah studi yang dilakukan oleh The George Washington University School of Public Health dari Departemen Epidemiologi dan biostatistik ditentukan bahwa peningkatan signifikan yang diamati untuk autisme dan gangguan spektrum autisme sebagai akibat dari paparan merkuri dari vaksin yang mengandung Thimerosal.

4. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Penelitian neurokimia  menetapkan bahwa sejak akumulasi berlebihan glutamat ekstra seluler terkait dengan excitotoxicity, data menunjukkan bahwa paparan neonatal untuk vaksin yang mengandung thimerosal mungkin  dapat menyebabkan cedera eksitotoksik otakyang menyebabkan gangguan perkembangan saraf.

5. Sebuah studi yang diterbitkan oleh  jurnal Lab Medicine menetapkan bahwa vaksinasi mungkin menjadi salah satu pemicu autisme. Para peneliti menemukan bahwa data yang cukup besar menunjukkan kelainan kekebalan pada banyak anak autisme dengan resistensi gangguan terhadap infeksi, aktivasi respon inflamasi dan autoimun. Resistensi gangguan dapat mempengaruhi cedera vaksin dalam autisme.

Bagaimana apakah penelitian-penelitian yang dilakukan sebuah studi sudah membuat anda yakin? Fakta mengatakan bahwa vaksinasi tidak jauh lebih buruk untuk tubuh jika dilakukan, daripada anda melakukan vaksinasi sebaiknya anda mempelajari bagaimana cara menjaga daya tahan tubuh, apalagi seperti sekarang ini, musim hujan akan sangat mudah membuat daya tahan tubuh menurun khususnya anak-anak. Berfikir ulang dengan keputusan yang anda buat adalah jalan terbaik sebelum anda menyesal dengan langkah sudah anda ambil.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *